Jumat, 21 Juli 2017

Menstimulasi Anak Suka Membaca

Materi ke #5 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional kali ini membahas tentang bagaimana cara menstimulasi anak suka membaca. Seperti yang telah kita ketahui bersama, aktivitas membaca memiliki berbagai dampak positif. Bahkan dalam agama Islam pun ayat suci alquran yang pertama kali turun berupa ajakan membaca. Nah lalu pertanyaannya, kapan anak mulai diajarkan membaca? Bagaimana memulainya? Yuks kita simak ulasan materi bunprof berikut ini.

_MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA_

๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น๐Ÿ”ธ๐Ÿ”น

Mari  kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia,   belum pernah mengetahui bahasa mandarin  kemudian tiba-tiba kita diberi Koran berbahasa mandarin dengan tulisan mandarin semua. Apa yang kebayang di benak kita semua?
Pusing?  Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama halnya dengan anak-anak`yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ngulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

๐Ÿ’ *KETRAMPILAN BERBAHASA*
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya.

๐Ÿ’ Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterampilan mendengarkan ( listening skills)
b. Ketrampilan Berbicara ( speaking skills)
c. Ketrampilan Membaca ( reading skills)
d. Ketrampilan Menulis ( writing skills)

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang *BISA MENDENGARKAN* ( Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti *BISA BERBICARA* dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang *BISA MEMBACA, belum tentu terampil  mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya.*
Padahal dua hal ketrampilan di atas sangatlah penting.
Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal Anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.
Pertanyaan selanjutnya mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan diantara kita orang dewasapun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal  kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.
Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk *BISA* membaca tidak *SUKA MEMBACA*. Sehingga banyak diantara kita  BISA MENULIS huruf (melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (
MENULIS KARYA)
Terbukti  berdasarkan survey UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masayarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi _"Most Littered Nation In the World"_ yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Padahal  program membaca  ini tidak hanya digencarkan oleh pemerintah dalam program literasinya, melainkan juga sudah diperintahkan di dalam salah satu kitab suci agama yang sebagaian besar dianut oleh bangsa Indonesia. Disana tertulis IQRA’( bacalah), perintah membaca adalah perintah pertama sebelum perintah yang lain turun.
Mengapa kita perlu membaca? Biasanya jawabannya klise yang muncul adalah agar kita bisa menambah wawasan kita, bisa membuka cakrawala dunia dll.

Jawaban di atas baik, tapi ada yang kita lupakan tentang tujuan  membaca ini yang jauh lebih penting, yaitu agar anak-anak kita lebih mengenal pencipta nya, karena membaca akan lebih membuat anak-anak  mengenal “siapakah dirinya”, maka disitulah dia mengenal siapa Tuhannya.

*MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA*

Sekarang kita akan belajar bagaimana tahapan-tahapan agar anak-anak kita *SUKA MEMBACA tidak hanya sekedar BISA. Agar ke depannya mereka SUKA MENULIS.*

๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ

Kita akan memulai dengan berbagai tahap ketrampilan Berbahasa.

๐Ÿ’ *TAHAP MENDENGARKAN*

a. *Sering-seringlah berkomunikasi* dengan anak, baik saat mereka di dalam kandungan, saat mereka belum bisa berbicara dan saat mereka sudah mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut kecilnya.

b. Buatlah berbagai *forum keluarga* untuk memperbanyak kesempatan anak mendengarkan berbagai ragam komunikasi orang dewasa di sekitarnya.

c. *Setelkan berbagai lagu anak*, cerita anak yang bisa melatih ketrampilan mendengar mereka.

d. *Bacakan buku-buku anak dengan suara yang keras* agar anak – anak bisa melihat gambar dan telinganya bekerja untuk mendengarkan maksud gambar tersebut.

e. *Sering-seringlah mendongeng/membacakan* buku sebelum anak-anak tidur. Jangan pernah capek, meski anak meminta kita mendongeng/membaca buku yang sama sampai puluhan kali. Begitulah cara menyimak,

๐Ÿ’*TAHAP BERBICARA*

a. Di tahap ini anak belajar berbicara, kita sebagai orang dewasa belajar mendengarkan. Investasikan waktu kita sebanyak mungkin untuk mendengarkan *SUARA ANAK*

b. *Jadilah pendengar yang baik*, disaat anak-anak ingin membacakan buku untuk kita, dengan cara mengarang cerita berdasarkan gambar, apresiasi mereka.

c. Jadilah murid yang baik, disaat anak-anak kita ingin menjadi guru bagi kita, dengan cara *membuat simulasi kelas*, dan dia menjadi guru kecil di depan.

d. *Ajaklah anak-anak bersilaturahim* sesering mungkin, bertemu teman sebayanya dan orang lain yang di atas usianya bahkan di bawah usianya untuk mengasah ketrampilan mendengar dan berbicaranya.

๐Ÿ’*TAHAP MEMBACA*

a. *Tempelkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar* yang jelas dan besar di sekitar rumah, terutama tempat-tempat yang sering di singgahi anak-anak

b. *Tempelkan tulisan/kata* pada benda-benda yang ada, misalnya, tempelkan kata- “televisi” pada pesawat televisi.

c. Buatlah *acara membaca bersama* yang seru, misalnya perpustakaan di bawah meja makan

d. Sekali waktu, *ajaklah* anak-anak ke pangkalan buku-buku bekas, pameran buku dan toko buku

e. Siapkan alat perekam dan *rekamlah* suara anak kita yang sedang membaca buku

f. Biasakanlah *surat-menyurat* dengan anak di rumah. Misalnya , dengan menempelkan pesan-pesan di kulkas atau buatlah parsi (papan ekspresi) di rumah

g. Dorong dan ajak anak kita untuk *membaca apapun* label-label pada kemasan makanan, papan reklame dan masih banyak lagi

h. Berikan *buku-buku berilustrasi* tanpa teks.  Warna mencolok dan menarik akan merangsang minat untuk membaca, sekaligus membangkitkan rasa ingiin tahunya. Selanjutnya berikan buku full teks dengan ukuran huruf yang besar-besar.

i. *Komik* juga menarik sebagai pemancing rasa ingin tahu dan gairah membaca anak (tentunya perlu selektif dalam memilih komik yang tepat).

j. Ajaklah anak *bertemu* dengan pengarang buku, ilustrator, komikus, penjual buku, bahkan penerbit buku.

k. *Dukung hobi anak* kita dan sangkut pautkan dengan buku.
Misalnya, buku tentang perangko untuk anak yang hobi mengkoleksi perangko, buku cerita tentang boneka untuk anak yang suka boneka dan sebagainya

l. *Budaya baca* bisa ditumbuhkan dari ruang keluarga yang serba ada. Ada buku-buku yang mudah diambil anak,  ada mainan anak,  ada karya-karya anak dalam satu ruangan tersebut.

m. Ajaklah anak untuk *memilih bukunya sendiri*, tapi tentunya dibawah bimbingan kita agar tidak salah pilih

n. *Contohkan kebiasaan membaca* dan mengkoleksi buku dengan sungguh-sungguh dan konsisten

o. *Buatlah pohon literasi keluarga*, caranya:
๐Ÿ“ŒMasing-masing anggota keluarga memiliki pohon dengan gambar batang dan ranting, tempelkan di dinding.
๐Ÿ“ŒSiapkanlah daun-daunan dari kertas sebanyak mungkin, setiap kali anak-anak selesai membaca, tuliskan judul buku dan pengarangnya di daun tersebut.
๐Ÿ“Œkemudian tempelkan di pohon dengan nama anak tersebut.

Cara ini bisa untuk melihat seberapa besar minat baca masing-masing anggota keluarga kita, hanya dengan melihat seberapa rimbun daun-daunan di pohon masing-masing.

๐Ÿ’*TAHAP MENULIS*

a. *Siapkan satu bidang tembok* di rumah kita, tempelkan kertas flipchart besar disana dan ijinkan anak-anak untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan atau coretan.

b. Berilah kesempatan dan dorong anak kita untuk *menulis  apapun* yang dia lihat, dengar, pegang dan lain-lain

c. *Siapkan buku diary keluarga*, masing-masing anggota keluarga boleh menuliskan perasaaannya di buku diary tersebut, sehingga akan membentuk rangkaian cerita keluarga yang kadang nggak nyambung tapi seru untuk dibaca bersama.

d. *Buat buku jurnal/ buku rasa ingin tahu* anak dari kertas bekas,   ijinkan setiap hari anak menuliskan apa yang dia alami apa yang memunculkan rasa ingin tahunya di dalam buku tersebut.

e. *Hiraukanlah* tanda baca, huruf besar, huruf kecil dll, saat anak-anak mulai belajar menulis. Biarkanlah anak merdeka menuangkan isi pikirannya, hasil bacaannya, tanpa terhenti berbagai kaedah –kaedah menulis yang harus mereka pahami. Setelah anak-anak lancar menulis baru setahap demi setahap ajarkanlah berbagai macam kaedah ini.


Salam Ibu Profesional,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang /


Sumber  Bacaan :

Kontributor Anatalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gaza Press, 2014

Pengalaman Bunda Septi dalam mengembangkan ketrampilan berbahasa di keluarganya, Wawancara, Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017
Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara praktis memicu dan memacu kreatifitas anak melalui pola asuh kreatif. Bandung : Kaifa. 2012
http://www.supernanny.co.uk/Advice/-/Learning-and-Education/-/4-to-13-years/Help.-My-child-doesn’t-like-reading.aspx

Sabtu, 13 Mei 2017

Aliran Rasa Games Level 4

      Belajar merupakan sebuah proses yang dilakukan pembelajar untuk memahami sesuatu berdasarkan gaya belajarnya. Seperti yang kita tahu, setiap orang itu unik sehingga memiliki gaya belajar berbeda2.
Melalui games level#4 ini saya merasa terbantu untuk menemukan gaya belajar saya dari stimulus2 yang coba saya lakukan.
     Dari 10 hari menjalani tantangan untuk mengidentifikasi gaya belajar, ketemulah kesimpulan tipe gaya belajar saya yaitu visual dan kinestetik. Semoga ilmu ini menjadi bekal untuk mengidentifikasi gaya belajar anak saya sehingga bisa memberikan kegiatan yang tepat yang mendorong tumbuh kembangnya.

Jumat, 05 Mei 2017

Games#4 Hari#10 Tantangan 10 Hari Kuliah Bunda Sayang IIP

      Ibu adalah madrasah pertama bagi anak2nya. Oleh karenanya ibu harus paham dulu apa yang akan diajarkan ke anaknya. Lebih tepatnya adalah role model. Jadi mencontohkan terlebih dahulu. Saya pun sebagai ibu baru mencoba untuk menjadi role model yang baik untuk anak2. Contohnya, salah satunya saya punya impian anak bisa hafal asmaul husna. Oleh karenanya saya harus hafal terlebih dahulu asmaul husna.
       Setiap hari, entah itu pagi atau sore saya perdengarkan asmaul husna kepada anak saya yang berusia 1 bulan sembari saya ikut menirukan sekaligus menghafalkan. Ternyata tak cukup bagi saya hanya mendengar saja untuk menghafalnya. Saat dedek sedamg tenang mendengarkan, jikalau saya ada yang terlupa, saya melihat tulisannya dan memudahkan saya untuk mengingat kembali. Begitupun dengan hari ini Jumat 05 Mei 2017 yang merupakan hari ke#10 saya menjalankan tantangan 10 hari kuliah bunsay IIP. Dari kegiatan tersebut mengindikasikan bahwa gaya belajar saya cenderung visual.
#Tantanganhari10
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Kamis, 04 Mei 2017

Games#4 Hari#9 Tantangan 10 Hari Kuliah Bunda Sayang IIP

       Kamis, 04 Mei 2017 adalah hari ke-9 pelaksanaan tantangan 10 hari bunda sayanng mengenai gaya belajar. Hari ini keluarga berkumpul semuanya setelah kemaren om meninggal. Saat berkumpul bersama, ponakan pun ramai sekali pada bermain. Mata saya pun selalu tertuju pada gerak gerik mereka. Di saat mengamati mereka, muncullah beberapa hasil identifikasi sebagai bahan pelajaran buat saya ketika mengasuh anak.
       Ada ponakan yang aktif sekali sehingga ortunya, mbah dan orang lain jengkel dan melabelinya dengan sebutan 'anak nakal'. Mendengar kata itu seringkali terlontar untuk ponakan tersebut, hati saya rasanya memberontak. Beberapa kali saya mengamati sebenarnya keaktifan anak ini bisa diarahkan ke hal2 yang produktif karena sebenarnya rasa ingin tahu dan daya ingat anak ini lumayan kuat tetapi orang2 disekitarnya terutama orang tuanya tidak memberikan stimulus yang tepat sehingga terkesannya jadi 'anak nakal' karena keaktifannya.
       Dari pengamatan tersebut saya bisa belajar bahwa anak2 itu unik, orang tuanya harus lebih peka untuk memberikan stimulus yang tepat dan mengazzamkan dalam diri untuk mengubur dalam2 kata 'nakal'. Berdasarkan kejadian tersebut mengindikasikan bahwa saya cenderung visual karena lebih mengena ketika melihat daripada hanya mendengar.

Rabu, 03 Mei 2017

Games#4 Hari#8 Tantangan 10 Hari Kuliah Bunda Sayang IIP

Rabu, 03 Mei 2017 merupakan hari ke8 pelaksanaan tantangan 10 hari mengenai gaya belajar. Berbicara tentang belajar, bagi saya seorang ibu baru dengan anak yang baru berusia 1 bulan, setiap hari adalah sarana belajar. Belajar darimanapun. Dari buku, teman, internet, guru dan lainnya bahkan bisa dari anak langsung.
Terkadang apa yang terjadi saat menghadapi anak berbeda dengan teori. Karena saat sudah berhadapan dengan anak langsung rasanya teori itu sudah 'ambyar' duluan, meskipun terkadang juga masih sesuai dengan teorinya. Kejadian2 seperti ini yang membuat saya belajar langsung dari kejadian sama yang berulang sehingga saya ambil kesimpulan, learning by doing. Setiap anak unik sehingga perlakuannya pun tidak bisa disamakan. Dari uraian diatas mengindikasikan bahwa gaya belajar saya visual

Selasa, 02 Mei 2017

Games#4 Hari#7 Tantangan 10 Hari Kuliah Bunda Sayang IIP

        Pada hari selasa 02 Mei 2017 yang merupakan hari ke7 saya melakukan tantangan 10 hari untuk mengidentifikasi gaya belajar. Di hari ke7 ini stimulasi kegiatan yang saya lakukan masih sama dengan yang kemarin yaitu membaca karena belum selesai membaca bukunya.
Untuk kegiatan membaca kali ini saya mencoba membuat rangkuman di buku. Setiap saya membaca, ketika ada poin penting, saya baca berulang dan saya tandai.
        Di buku Happy Little Soul banyak materi penting yang menurut saya harus ditandai agar tidak lupa sehingga bagi saya yang memiliki gaya belajar visual, membutuhkan rangkuman dengan bahasa sendiri untuk mempermudah mengingat di kemudian hari. Dari hasil pengamatan kegiatan stimulasi di hari ke7 ini mengindikasikan bahwa gaya belajar saya visual. Adapun salah satu indikasinya adalah menandai poin penting saat membaca atau membuat rangkuman dengan gambar sesuai dengan yang dipahami.
#Tantanganhari7
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP 

Senin, 01 Mei 2017

Games#4 Hari#6 Tantangan 10 Hari Kuliah Bunda Sayang IIP

       Tak terasa 2 bulan sudah fokus di rumah sampai2 terkadang lupa hari.hehe...seperti kejadian kemarin, saya lupa kalau sudah hari ahad sehingga terlupa pula kalau GFOS. Meskipun memang setelah dedek lahir, jarang sekali pegang HP.
       Nah, melanjutkan tantangan 10 hari kelas bunda sayang mengenai gaya belajar, di hari ke6 ini, senin 01 Mei 2017 pengamatan yang saya lakukan untuk mengidentifikasi gaya belajar saya adalah saat saya berdiskusi dengan suami. Setelah saya amati ternyata ketika berbicara, bicaranya cepat (padahal teman2 yang selain orang jawa menganggap bicara saya terlalu pelan.hehe). Memang saya akui, teman2 sekolah dan kuliah pun bilang kalau bicara saya cepat sehingga saat presentasi terkadang butuh pengulangan untuk kalimat2 yang belum bisa dipahami.
       Selain itu ketika suami bercerita tentang buku yang dibacanya karangan Robert T Kiyosaki yang berjudul Increase Your Financial IQ, saya lama2 merasa mengantuk. Akhirnya saya pun diminta ambil bukunya untuk membacanya sebentar, baru setelah itu suami mengajak diskusi.

      Dari kedua kejadian tersebut, ada 2 indikasi gaya belajar. Pertama untuk bicara cepat dan kedua lebih suka membaca buku sendiri. 2 hal tersebut merupakan indikator gaya belajar visual.
#Tantanganhari6
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Scale Up Impact

Assalamu'alaikum Ibu Pembaharu... Pekan kemarin merupakan pekan terakhir perkuliahan di bunsal. Hampir 6 bulan menjalani perkuliahan ini...